Sunday, October 18, 2015

Masa Tua Rangga-Cinta Jadi Pencuci Motor?


Menjelang salat asar berjamaah. Sekitar jam 14.00 terbesit pikiran untuk service motor. Seketika itu aku bawa motor Suzuki Smash N 3414 HR ke bengkel. Bengkel terdekat dan menurutku pelayanan berkualitas ada di perempatan jalan Semanding desa Sumber Sekar, + 50 meter dari tempatku, Perum Permata Puncak Sengkaling (PPS).

Kasihan. Motor itu sudah lebih empat bulan tidak kuganti oil, tidak kumandikan dan kuservice. Cukup lama sampai kondisinya memprihatinkan. Aku dari lubuk hati paling dalam merasa kasihan pada motor yang selam ini menemaniku menempuh perjalan dari PPS ke kampus, dari Malang ke Surabaya bahkan dari Malang ke Madura dan sebaliknya. Banyak kisah yang telah kujalani bersama motor berwarna merah itu. Namun kasihan dia memiliki tuan sepertiku. Tidak berprikemotorankah aku?

Lebih dari itu, aku berusaha memperbaiki perlakuanku pada si motor. Kali ini, aku mengganti oil-nya, menservicenya, dan terakhir aku bawa ke tempat cuci motor. Motor super tangguh itu harus mandi biar tambah kece. Loh masak cuma tuannya yang kece dan motornya enggak?

Ada yang menarik. Sewaktu menyusuri jalan mencari tempat cuci motor yang sanggup memberikan pelayanan terbaik untuk si motor terbaik, aku tertarik lihat suatu tempat cuci motor. Bukan karena tempatnya bagus, mewah atau terdapat tanda pelayanan berkualitas modern. Bukan karena itu. Justru tempat ini tidak dilengkapi dengan peralatan modern seperti mesin cuci steam atau salju, tapi tidak terbilang kuno juga sebab di tempat ini ada mesin penyemprot air. Hanya penyemprot. Lalu apa yang menarik?

Nah, yang menarik perhatianku adalah pencuci motor. Jadi begini, sewaktu itu kebetulan sedang ada satu motor Vario 125 cc yang sedang dicuci. Hanya di tampai ini yang kubilang sepi, sebab di rental cuci yang lain setidaknya ada 3 motor plus mobil yang dicuci. Aku memaklumi hal ini, karena rental yang lain lebih menjanjikan pelayanan berkualitas modern.  Si pemilik rental cuci motor adalah seorang kakek-nenek. Umur mereka sekitar 60-70 tahun. Mereka berdua lah yang mencuci motor para pengguna jasa. Kuperhatikan sekilas, cara kerga mereka cekatan, berintegritas dan (yang paling menarik perhatianku) mereka mesra.

Selayaknya sepasang kekasih dibakar asmara kakek-nenek ini mencuci motor dengan perasaan cinta. Pelan, lembut tapi bersih. Padahal ya, si Smash kotorannya tuh sampai berkarang, boleh dibilang “dekil of kuman”. 

Tiba giliran si Smash mandi. Menurutku kakek-nenek akan mengrutu atau paling tidak menyindir si tuan Smash kenapa kotorannya samapai sebegitu memprihatinkannya. Eh, ternyata tiadak. Mereka tersenyum sebagaimana pada tuan motor Vario, senyum yang sama.

Selebihnya pasangan kekasih ini membersihkan si Smash seperti mereka sedang bermesraan. Saling cumbu rayu, saling gelitik, saling memadu kasih dan rindu. Wes, pokoknya joss lah. Kalau digambarkan, kemesraan kakek-nenek ini semesra Rangga dan Cinta di filem AADC. Oh, My Good!!! Jangan-jangan kakek-nenek ini adalah Rangga dan Cinta yang asli? 


Kakek Rangga dan Nenek Cinta, aku penggemar kalian. Tanda tangannya dong, di body smash boleh. Cepet ya, soalnya aku buru-buru mau adzan asar.

Wednesday, October 14, 2015

Tahun Baru Islam Harus Bisa HIJRAH dan MOPE ON


Tahun baru Islam. Tepat pada tanggal 14 Oktober 2015 Masehi kalender Hijriah berganti ke posisi bulan pertama, Muharrom. Jika di kalender Masehi ada Januari maka di Hijriah ada Muharrom sebagai penanda bulan awal tahun. Hari Rabu ini, adalah tanggal 1 Muharrom yang artinya tahun baru Hijriah atau lebih dikenal dengan tahun baru Islam.

Hijriah atau hijrah. Munculnya kalender tahun hijriah ditandai dengan peristiwa hijrahnya nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Hijrah sendiri merujuk pada arti pindah, menjahui atau menghindari. Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah disebabkan perlakuan masyarakat Makkah yang kurang bersahabat pada nabi Muhammad, lebih tepatnya mereka menolak ajaran yang dibawa nabi Muhammad. Tekanan, ancaman dan kekerasan dilancarkan oleh masyarakat Makkah kepada nabi Muhammad dan para sahabat. Hal itulah yang kemudian mengharuskan nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Maka kemudian peristiwa itu menjadi pertanda permulaan awal kalender tahun Hijriah. Tahun baru Islam.

Bagi kaum galauers karena putus cinta. Kaum yang mengalami tekanan psikis sebab tak bisa lupakan mantan, ancaman jadi jones (jomblo ngenes), dan kekerasan terhadap perasaan, bisa jadi solusi terbaik untuk bebas dari tekanan itu adalah hijrah. Hijrah dalam hal ini bermakna pindah atau move. Para kaum galauers karena putus cinta harus mulai berpikir untuk hijrah ( move on ) dari perasaan sedih ke perasaan bahagia. Dari tangis ke tawa. Dari ingat mantan ke lupain mantan. Dari pacar lama ke pacar baru (eits, untuk yang ini berlaku bagi yang ingin jadi playboy/plyagirl sejati).

Kenapa harus hijrah?

Sejarah membuktikan dengan hijrah nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, Dia mendapatkan kebebasan dari ancaman, tekanan dan kekerasan seperti ketika di Makkah. Di tempat yang baru, Madinah, nabi Muhammad memperoleh perlakuan berbanding terbalik  dengan tempat yang lama, Makkah. Itu baru sebagian contoh dari hikmah hijrah. Di Indonesia ada ‘artis yang ustadz’ juga memperoleh hikmah dari hijrah, dan hal itu sampai-sampai difilemkan loh dengan judul “Hijrah Cinta”. Weh... kereen.

Nah, bagaimana para kaum galauers karena putus cinta? Ayo mulai sekarang jangan cemberut, semangatlah menghadapi tantangan hidup. Memang kamu mau galau dunia sampai akhirat ya?  Putus cinta bukanlah satu-satunya masalah yang harus kalian hadapi, masih ada masalah yang lebih besar yang harus kalian hadapi yaitu pertanyaan malaikat Mungkar dan Nakir. Jika kamu merasa hancur lebur karena putus cinta, bagaimana nantinya kamu ketika harus menghadapi pertanyaan dua malaikat angker itu?

Mereka akan menanyakan, “Hai engkau, siapa tuhanmu?” jawabmu hanya diam sambil monyongin bibir.

Mungkar tanya, “Apa agamamu?”, jawabmu juga diam tambah cemberut.

Nakir tanya, “Siapa nabimu?”, kamu makin cemberut.

Karena kesal Mungkar membentakmu, “Hey, JAWAB PERTANYAAN KAMI!!”

Tidak kalah keras kamu pun membentak mereka, “HAH? KALIAN YANG BIKIN MASALAH, TERUS AKU YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB? KALIAN TAHU, HATIKU HANCUR LEBUR. PERASANNKU TERCABIK, PERIH. DAN KALIAN TEGA MASIH MEMBEBANKAN PERMASALAHAN YANG KALIAN BUAT KE AKU????”

*Lalu tunggu jawaban Mungkar dan Nakir. koplAk

Hijrah bagi kaum galauers adalah dengan moPE on. Jika putus cinta dengan seorang kekasih, maka hijrahkan cintamu ke kekasih yang lain. Masih banyak tempat, maksudku hati, yang bisa kamu jadikan tempat untuk hijrahkan cintamu.

Di awal tahun hijriah ini Rabu, 01 Muharrom 1437, bulatkan tekadmu untuk hijrah dari galau ke semangat. Hijrahkan perasaan dari dengki ke lapang dada, dari maksiat ke taat, dari riya’ ke ikhlas, dari lupa atau lalai  Tuhan ke ingat Tuhan.

Dan satu hal paling penting, hijrahkan diri dari PACARAN ke PERNIKAHAN.

Wallahua’lam.
Malang, 1 Muharrom 1437


Sunday, December 14, 2014

Makan Secukupnya Vs Makan Sepuasnya


Pernah punya pengalaman makan di restoran, depot, atau warung makan? Bukan untuk pamer, karena itu saya tidak akan menyebutkan seberapa sering saya makan di tempat seperti itu :-). Yang sedang menarik untuk kubahas adalah seberapa sering saya menemukan seseorang yang makan di restoran, depot atau warung. Mereka yang kumaksud di sini memilki kebiasaan yang menarik perhatianku.
Pernahkah kamu menyaksikan dengan mata sendiri orang makan tapi tidak dihabiskan? Dia itu menyisakan makanannya, yang sepertinya menurut kita mampu dihabiskan. Entah itu menyisakan nasi yang tinggal sesuap, atu lontong yang tinggal sepotong, bakso yang tinggal satu pentol atau lauk, telor, sepotong tempe atau tahu yang seukuran foto 3 x 4 cm. Saya sering menemukan orang yang demikian, dan sungguh akhir-akhir ini saya tertarik pada mereka.
Di sekitar kampus  di Malang; UIN, UMM, UB,UM, UNISMA  dan lainya tidak jarang terdapat warung makan dengan aneka masakan yang mengundang selera. Setiap harinya selalu ada pengunjung yang makan di sana. Banyaknya pengunjung yang butuh makan, sampai terkadang antre, mengundang minat pengusaha yang lain untuk juga membuka warung makan. Demi untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan tentunya dengan tujuan meraup rupiah dari mereka. Persaingan pun terjadi. Berbagai trik pelayanan diterapkan agar jualan tidak kalah laris dari warung tetangga. Salah satunya yang marak dan familiyar adalah pengunjung bebas mengambil makanan sendiri sesuai selera mereka dengan harga murah.
Suatu ketika saya makan di warung makan dekat salah satu kampus di Malang. Saat itu sedang antre untuk ambil nasi, dan kebetulan saya ada di belakang seorang laki-laki dan perempuan. Dilihat dari penampilannya jelas mereka mahasiswa. Yang laki-laki mengenakan celana-pensil-jeans berwarna sama dengan sepatunya, hitam. Dipadu kemeja batik khas Pekalongan warna biru dengan pena warna hitam menyembul dari saku bajunya. Saya perkirakan pena itu sama dengan penaku yang hilang, standard A E 7 Alfa Tip 0.5. Selain itu, dia menggendong tas merek Takker  warna hitam. Sedangkan yang perempuan berjilbab warna merah, bajunya merah pula, dan celana-pensil-jeans warna hitam. Tas yang di pinggirannya kriput, warna coklat, menggelantung di pundak perempuan berkulit putih itu.
Kuperhatikan perempuan di depanku, yang menurut penilaianku cantik, mengambil porsi lebih sedikit dari porsi laki-laki di sampingnya. Kalau nasi yang bertengger di piring si laki-laki separuh piring dan tidak menggunung, malah nasi yang bertengger di piring si perempuan separuhnya lagi. Padahal bagiku, porsi mereka berdua kumakan semua itu baru membuatku kenyang. Jangan-jangan  mereka sebenarnya tidak lapar, cuman sedang mengisi  waktu luang dengan makan? Entahlah. Namun yang jelas, mereka makan terlalu sedikit menurutku.
Sebetulnya saya tidak berniat memerhatikan mereka, jika saja mereka tidak tepat di depanku. Siapa sangka saya malah kebagian tempat duduk yang berhadapan dengan mereka. Akhirnya saya bisa menerka kedua mahasiswa itu datang bersama, dan sepertinya mereka sepasang kekasih. Buktinya sambil bercanda gurau, si perempuan mengusap bekas makanan di pipi si laki-laki dengan tisu. Eh, tapi kok bisa ya bekas makanan itu nempel di pipi si laki-laki, emang bagaimana makannya?
Alhamdulillah, saya selesai makan, perutku terisi dan saya kenyang. Waduh, lagi-lagi perhatianku terpaku kepada mereka. Bagaimana tidak, saya selesai makan tapi mereka belum selesai juga. Padahal porsi yang kuambil lebih banyak dari porsi mereka, seharusnya lebih dulu mereka selesai makannya. Tunggu dulu, ada yang tidak beres. Mereka beranjak dari tempat duduk dan bayar ke kasir, padahal makanan mereka belum habis. Itu aneh menurutku. “Mungkinkah karena makanan di sini tidak enak?”, pikirku. Tapi kuperhatikan sekitar, pengunjungnya banyak dan mereka mayoritas menghabiskan makanannya, tanpa sisa. Pasti ada alasan lain. Sudahlah itu tak penting.
Inginku tidak mengingat kejadian yang kuceritakan di atas, jika saja saya tidak mendapati hal yang serupa. Beberapa kali saya mendapati kejadian yang sama, baik di warung makan atau restoran, orang makan tapi tidak dihabiskan makanannya. Di salah satu warung langgananku saya menemukan kasus serupa dengan orang yang sama lebih dari tiga kali. Ini bukan karena mereka tidak suka makanan yang dibeli, atau karena mereka sedang mengisi waktu luang dengan makan padahal sedang kenyang. Ini seakan jadi tradisi mereka dan tersugesti dalam kebiasaan, “kalau makan jangan dihabiskan”.
Jika benar itu adalah kebiasaan, bagiku sungguh tidak menarik. Mereka menyia-nyiakan makanan dengan begitu mudahnya, justru di saat bersamaan ada saudara sebangsanya yang sedang sekarat karena tidak makan selama berhari-hari.(Baca juga Penyebab Sakit Mah )
Mereka orang terpelajar, mahasiswa, mungkin saja mereka mau beralasan takut Israf, yaitu mengonsumsi (makanan) secara berlebihan. Padahal sudah kenyang tapi masih memaksakan diri makan lagi. Dengan bahasa lain, tamak. Memang benar Israf dilarang dalam Islam sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Furqan: 67.  Namun perlu diingat, Mubazir, yaitu berlebihan dalam membelanjakan harta, misal membeli hal yang tidak dibutuhkan, juga dilarang dalam Islam. Istilah lainnya adalah boros. Membeli makanan tapi kemudian makanan itu dibuang adalah mubazir. Coba baca QS. Al-Isra: 26-27 yang artinya, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkankan (harta) secara boros. Sesunguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”.
Jika alasannya sudah kenyang, karena itulah tidak menghabiskan makanannya, lalu kenapa mengambil porsi lebih? Jika memang butuh separuh piring kenapa mengambil sepiring penuh? Atau jika butuh sepiring penuh kenapa ngambilnya separuh piring, bukankah itu hanya akan mendzalimi diri sendiri, sedang yang demikian itu tidak baik. Islam menganjurkan makan dan minum selain halal dan baik, juga proporsional. Dalam QS. Al-A’raf ayat 31, artinya “ Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan”.
Tambahan sebagai penutup tulisan ini. Alasan yang lebih tidak bisa diterima adalah, ingin pamer, berlagak sok banyak uang. Ingin menunjukkan bahwa tidak masalah meski makanan yang dibelinya tidak dihabiskan atau bahkan tidak dimakan, karena dia banyak uang. Hal yang demikian adalah sombong, perangai yang sangat buruk.
Wallahua’lam bisshawab…

Malang, 12 Desember 2014
Makan Tidak Usah Banyak Gaya

Sunday, November 2, 2014

Kembali Merantau I

Pada sekitar tahun 2008-2009 aku pernah merasakan suasana hidup di rantau, kota Surabaya. Sebalum akhirnya pulang ke kampung halaman, Sumenep, aku menyempatkan diri menyimpan tekad untuk merantau kembali di kota yang lain, entah itu Yogyakarta, Jakarta, Semarang atau yang lainnya.

Empat tahun kepulanganku di Sumenep hampir membuat pudar keinginanku merantau kembali. Namun, dasar saja keinginan yang tertanam dalam diri, keinginan itu mulai tumbuh perlahan dan terus tumbuh lalu membuahkan takdir: keinginanku terpenuhi.

Tepatnya pada tanggal 5 Agustus 2014, aku menginjakkan kaki di kota yang sebelumnya tak masuk daftar untukku mengadu nasib di sana. Kota Jakarta, Yogya atau Semarang yang jadi tujuanku malah belum pernah kudatangi. Takdir yang tak bisa disangka; aku mendarat di Malang, kota yang...... (terlalu dini memberi deskripsi kota ini :-) ).

Satu alasan kuat yang membuatku sampai dan akan tinggal di Malang dalam waktu cukup lama adalah sama dengan alasanku tinggal di Surabaya, yakni; kuliyah. Jika di Surabaya aku menempuh pendidikan D1 Teknisi komputer, di Malang lain lagi. Aku sedang menempuh pendidikan S2 Ekonomi Syariah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Sampai tulisan ini buat, aku berada di Malang kurang lebih 3 bulan. Ada banyak hal yang kudapat di kota ini, khususnya di UIN Maulana Malik Ibrahim. Mulai dari teman baru, orang dengan berbagai jenis kekurangan dan kelebihan masing-masing, tempat baru, suasana baru.
 

 foto ini diambil pas aku dan sebagian teman kelas baru selesai mengikuti mata kuliyah dan hendak ke luar melalui lift.
 Sesampainya di halaman depan kampus, ada yang berinisiatif untuk mengabadikan kebersamaan. Kebetulan waktu itu ada sekretaris prodi Ekonomi Syariah, Ust. Jalal, lalu kami ajak untuk foto bareng.
Posisi berdiri, tengah, mengenakan baju batik adalah Ust. Jalal yang dimaksud. Sedang yang lain adalah teman seangkatan. Sebenarnya jumlah kami yang merupakan angkatan pertama adalah 16 orang, cuman saat itu kebetulan tidak datang semua. Bersambung......

Thursday, June 26, 2014

DIA ADALAH ADIKKU

Dia lebih muda 3 tahun dariku. Namun meski lebih muda, sebagian orang sering mengira dia kakakku, mungkin karena postur tubuhnya yang lebih gede. Aku akui secara fisik dia memang lebih perfect; tinggi, hidung mancung, dan lebih ca’em. Bukan hanya itu, dalam hal berorganisasi, dia lebih mapan dan tepat jika menjadi pemimpin. Orangnya ramah kepada siapapun, dan senyum adalah andalannya memikat perhatian orang lain. Dia selalu berhasil mengakrabi orang bahkan yang baru dikenalnya, suatu hal yang tak ada padaku.

Tanggal 23 Juni kemarin ini adalah hari ulang tahunnya dan sebetulnya aku ingin merayakan itu, tapi sayang dia tak sedang di rumah. Saat itu dia tengah menikmati kesibukannya sebagai Pembina pramuka. Dia membina pramuka di 3 kesatuan gudep berbeda, padahal selain berstatus guru dia sedang menjabat sebagai pemimpin lembaga, yakni sebagai kepala Madrasah. Hanya orang berkrakter aktifis dan disiplin yang sanggup mengatur jadwal kegiatan seperti dia sekarang, maka tak heran jika dia menjadi panutan dan pantas kuacungi jempol. Dia memang pantas menerima pujian.

Hanya saja, namanya juga manusia yang tak bisa lepas dari kekurangan, ada hal yang kadang mengurangi kegantengan dia. Ketika dia menyikapi suatu permasalahan, sering mengedepankan emosi dan ammarah, sehingga sulit menerima keadaan dan pendapat orang lain. Seakan dia lebih dikuasai egonya dan telah menutupi cara berpikirnya yang adem dan sejuk, yang terjadi malah dengan pikiran panas membara. Ketika begitu, kuperhatikan pipinya sedikit tembem berisi, hidungnya kembang kempis, dan matanya agak redup tapi berkaca. Biasanya suara apa pun tak tertangkap telinganya, karena daun telinga indahnya itu sibuk dengan konser angin yang diciptakannya sendiri. Ini suatu kejadian yang sering dialami oleh orang kebanyakan, termasuk aku.

Sekarang dia berumur 21 tahun, usia remaja yang berapi-api namun kadang redup seketika. Di saat tertentu, semangatnya tentang perubahan berkibar indah, tapi di saat yang lain tiba-tiba lemes. Adalah keharusanku menjaganya tetap berkibar indah, menjaga dari segala kemungkinan terpaan angin besar berupa badai yang bisa-bisa merusak dia karena saking kenceng kibaran semangatnya dan mengantisipasi kalau-kalau angin tak ada. Itu artinya aku harus membawakannya kipas atau apalah jika diperlukan yang penting semangatnya berkibar indah, tidak terlalu kenceng atau lemes, sebab aku adalah kakaknya. Aku kakak yang masih malu mengakui sayang pada adiknya. Kakak yang tak bisa menatap wajah adiknya dengan rindu meluap kecuali saat dia terlelap.

Dia adikku, dan aku kakaknya. Ingin sekali aku merayakan ulang tahunnya dengan sangat spesial plus mewah dan megutarakan perasaan sayang dan rinduku selama ini. Ingin kukatakan, “Aku meindukan wajah lucu dan menggemaskan darimu, seperti wajah semasa kanak dulu.” Selamat Ulang Tahun Adikku, semoga Allah memberkahi umurmu dan meridhai cita-citamu, Amien.

Sasar, 24 Juni 2014

Wednesday, May 28, 2014

Mantan Berkhianat tuh, Kentut!

Muktir Rahman Syaf

Kentutku menguap. Pada mulanya bau menyengat, membuat orang sekitar dan diri sendiri tersiksa karena baunya atau risih karena bunyinya. Bisa jadi orang di sekitar merasa tak enak dan bahkan marah juga benci padaku karena buang angin. Aku telah melakukan hal yang sama pada orang yang menyakiti perasaan, melepasnya seperti kentut. :D :-P Aku sadar, bau tak sedap akan menyebar. Orang mengomel, marah dan benci padaku, mungkin terjadi dan akan kuterima. Namun harus disadari, jika aku tak kentut (seperti halnya melepasnya), aku sendiri yang akan tersiksa. Bahkan siksaan itu yang berupa sakit bisa membunuhku. Bayangkan saja, tidak sedikit orang yang harus membuang uang jutaan rupiah untuk operasi agar bisa kentut. Jika seseorang tidak bisa kentut, berarti dia berpenyakit, sebab kentut sendiri adalah penyakit yang bersarang dalam diri manusia. Jika tidak dikeluarkan, kentut yang aslinya adalah penyakit, semakin lama bersarang dalam perut dan membikin makin parah derita kita dan pada akhirnya harus merenggang nyawa. Jujur, aku pribadi (entah bagaimana orang lain), sangat tidak ingin mati karena tidak kentut. Mati karena tidak kentut sungguh sangat tidak lucu dan tidak keren.Yah, begitu pula mati kerena tidak melepas kekasih yang berhianat “seperti kentut”, sungguh sangat tidak keren. :D
Aku akui, setelah kentut, aku merasa lega dan segar. Nikmatnya tak terkira. Sakit perutku hilang. Begitu juga yang kurasakan ketika melepasnya “seperti kentut”, perasaanku lega, sakit yang kurasakan hilang, dan aku merasa segar kembali. Kentut dan dirinya itu benar-benar anugerah sempurna dari Tuhan. Ternyata nikmat yang kurasakan ada pada kentut dan dirinya. Dia dan kentut hampir tak ada beda, sempurna sebagai penyakit sekaligus penyempurna hidup. :-) Jika tak ada kentut dan orang seperti dia, hidup terasa hambar, kurang dinamis. Hehehe.
Tentang bau dan omelan orang di sekitarku, aku tak mau terlalu peduli, toh bau kentut dan omelan mereka tidak akan lama paling hanya beberapa menit setelah itu keadaan akan kembali tenang. Jadi, karena melepas “kekasih yang penghianat” sama halnya dengan membuang kentut, tentu akanada yang merasa tak nyaman, risih dan mengomel,tapi tenang hal itu juga tidak akan bertahan seumur hidup paling hanya hitungan hari keadaan akan kembali normal. :-)
Sebenarnya sih, melepasnya itu sama dengan ketika aku kebelet kentut di dekat orang banyak yang semuanya itu orang terhormat. Aku sempat dihadapkan pada dilema, memilih antara kentut atau tidak. Jika aku tidak kentut dan memilih mempertahankannya dalam perut, akibatnya perutku mules dan itu menyiksa diri. Jika aku kentut? Hem, imageku dipertaruhkan. Pertama, bisa saja aku akan dicap sebagai orang kurang ajar tak beretika, dan orang-orang akan menatapku sinis. Kedua, orang-orang tidak peduli dengan kentutku dan memilih diam bersikap acuh tak acuh alias cuek bebek. Ketiga, ada orang yang peduli tapi memilih diam saja dan husnuddzan terhadapku, misal mengira aku sedang sakit dan jika tidak kentut sakitku akan tambah parah jadi orang itu membiarkanku kentut. Keempat, ada yang peduli pada kentutku dan prihatin, jadi si orang ini akan memberiku saran untuk mengeluarkan sisa kentutku atau menawarkanku minyak putih agar perutku tidak kembung. Hanya saja, dari keempat opsi yang paling mungkin adalah yang pertama. Namun meski seperti poin pertama yang terjadi, aku tetap memilih melepas kentut. Aku sudah mengatakan, aku tidak ingin sakit apalagi mati hanya karena tidak kentut. Titik.
Jadi karena aku lebih memilih melepaskekasih yang penghianat seperti melepas kentut di samping orang-orang terhormat, aku harus siap waspada dengan imageku yang akan berubah di mata orang lain. Perlu diketahui, aku tidak terlalu peduli dengan imageku di mata orang-orang, mau aku dicap sebagai apa pun, aku tidak akan merubah sikap. Jelasnya, aku tidak akan bertambah lebar kuping karena imageku distempel bagus dan tidak akan berkecil hati jika imageku distempel buruk. Yang paling urgen, aku mengikuti yang kuyakini saja, yakni tidak ingin sakit apalagi mati kerena menahan kentut (termasuk dia) dalam diriku.
Nah, ini ceritaku. Lalu apa ceritamu? Hehehehehhe.
Sasar, 24 Mei 2014

SEKILAS MEMANDANG SASAR

Muktir Rahman Syaf

            Pada tahun 2009 ketika aku baru menyelesaikan studyku selama satu tahun di Surabaya, aku kembali ke Sasar. Kondisi kampung Sasar pada saat itu sudah lebih mending dari kondisi sebelumnya, terutama menyangkut pendidikan. Jika dulu di Sasar sulit menemukan masyarakatnya yang lulusan MTs. sederajat, kala itu ketika aku baru kembali dari rantau telah kutemukan remaja Sasar tidak segan melanjutkan sekolahnya ke jenjang MTs. bahkan ada sebagian yang melanjutkan ke jenjang SMA. Perubahan yang harus disyukuri.
            Berbeda dengan kondisi sebelumnya, ketika aku dan segelintir remaja yang lain menempuh pendidikan di jenjang sederajat SMP sekitar tahun 2002-2005. Banyak orang yang mencemoh dan mengenyek kami karena melanjutkan sekolah. Bagi sebagian besar masyarakat Sasar, sekolah itu cukup hanya di SD atau bisa membaca al-Quran saja, sehingga melanjutkan ke SMP dan jenjang yang lebih tinggi tidak begitu penting. Sekolah tidak jadi prestise keberhasilah, justru laki-laki dikatakan sukses jika mereka bisa bertani seperti orang tuanya dan hanya cendrung itu-itu saja atau jika ingin lebih terpandang jadilah TKI, sedangkan yang perempuan dinyatakan berhasil jika menjadi seorang istri. Pradigma tersebut terkadang menyudutkan orang yang lebih memprioritaskan sekolah.
            Namun 2009 menjadi tahun yang cantik. Masyarakat mulai mengakui pentingnya sekolah, karena itulah anak-anaknya mulai diarahkan untuk melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi. Sejak tahun 2009, Sarjana muda mulai bermunculan di kampung Sasar. Mereka yang putus sekolah mulai melanjutkan sekolah dan sekarang menjadi Sarjana. Bagi yang merasa cukup tua, mereka mengikuti program paket agar bisa merasakan bangku kuliyah.
            Pada tahun 2014 ini di kampung Sasar sangat nampak perbedaannya dengan Sasar yang dulu, sebelum tahun 2009. Dalam hitungan bulan putra Sasar yang melanjutkan kuliyah di luar akan wisuda. Ada yang akan diwisuda di Unisa Surabaya, Unmer dan UIN Maliki Malang, Stain dan Unira Pamekasan, STKIP PGRI dan Universitas Wiraraja Sumenep. Kelulusan mereka menambah daftar sarjana terdahulu yang lulus dari INSTIK Annuqayah dan IDIA Al-Amien Sumenep.
            Bertambahnya sarjana muda di kampung tercinta tidak bisa dipungkiri mampu mengubah pradigma berpikir masyarat yang semula stagnan dan cendrung pasif ke pola berpikir yang lebih dinamis dan inovatif. Itu dibuktikan dengan semakin sedikitnya pemuda yang berminat bekerja ke luar Madura bahkan ke luar negeri. Berbeda dengan dulu, hampir 80% pemuda kampung Sasar merantau untuk mencari nafkah[1].
            Para pemuda seakan telah bisa mengelola kekayaan di kampung sendiri. Mereka tidak terlalu kebingungan untuk memenuhi kebutuhan primer sehari-hari sebab mereka mampu mengatasinya dengan keterampilan masing-masing dan bisa diterapkan di Sasar. Penghasilan mereka tidak lagi hanya berpangku pada tani jagung dan tembakau atau ternak sapi yang terlalu lamban, melainkan dari hal lain yang lebih inovatif. Ada yang jadi pengusaha dagang barang rongsokan; bertani jahe, kencur, bawang dan kemiri; ternak ayam petelur dan ayam daging; kambing dan sapi sistem ternak cepat; unit kegiatan usaha menengah; dan semacamnya. Pada intinya, ekonomi masyarakat Sasar sedikit demi sedikit telah terangkat.
            Namun semua itu masih belum selaras dengan emansipasi yang diperjuangkan Ibu Kartini. Aku mendapatkan pendidikan tinggi belum bisa dirasakan oleh semua remaja putri Sasar, dan penyebabnya adalah masalah jodoh. Pasangan hidup menjadi sesuatu yang menghantui perempuan di Sasar. Masyarakat yang memiliki anak perempuan yang usia SMP jika belum ada yang melamar, maka hal itu menjadi aib keluarga. Mereka dihantui rasa takut anaknya tidak laku dan akan jadi perawan tua, sehingga jika ada laki-laki yang melamar putrinya tersebut maka dengan segera diterima sekalipun putrinya masih ingin meranjut mimpinya di bangku sekolah. Positifnya dari pola berpikir seperti itu adalah terhindarnya prilaku amoral remaja Sasar seperti yang terjadi di kota-kota metropolitan, yakni pacaran tanpa arah yang jelas dan juga mencegah status perawan tua. Dampak negatifnya adalah remaja putri Sasar menjadi tua tidak pada waktunya, sebab menjadi ibu dari beberapa anak justru ketika teman sebayanya tengah bergelut dengan materi kuliyah. Dampak negatif lainnya adalah ketika laki-laki yang melamar si perempuan tidak mengenyam pendidikan lebih tinggi dari calon istrinya—biasanya lamaran lelaki semacam itu tetap diterima dengan alasan mumpung ada yang melamar—sehingga yang terjadi perempuan tertinggal dari laki-laki dalam hal pendidikan.
            Adalah harapan terbesarku remaja kampung Sasar segera melek pendidikan semua tanpa terkecuali; Putra putri Sasar memiliki kesempatan yang sama merajut mimpi di bangku sekolah dasar sampai di bangku sekolah tinggi; Pemuda Sasar mampu mengelola kekayaan tanah kelahiran dengan maksimal sehingga tidak tergiur dengan tawaran pekerjaan di daerah lain apalagi di luar negri. Terakhir, semoga harapanku diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Amien.

Sasar, 23 April 2014


[1] Sumber, hasil survei dalam skripsi berjudul Urgensi pendidikan moral sejak dini di Kampung Sasar desa Moncek Barat Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep.

TERRO NGALELENGAH*

Muktir Syaifullah Munir

            Rhenald Kasali, guru besar Ilmu Manajemen di Universtas Indonesia pada tahun 2009, menganalogikan dunia dan isinya ibarat sebuah buku. Memiliki banyak halaman dan beberapa bab sedang setiap halaman berisi pengetahuan. Mereka yang tidak melakukan perjalanan, alias hanya menginjakkan kaki di satu tempat saja dapat diibaratkan hanya baca satu bab.
            Saya setuju dengan yang dikatakan beliau, karena itulah tiga dari sepuluh keinginan saya adalah berjelajah. Mengunjungi berbagai tempat yang layak dan belum saya kunjungi, adalah satu hal yang sering memenuhi pikiran. Dengan berjelajah ke tempat-tempat --yang bahkan orang terdekat saya belum pernah melakukannya—bisa membantu saya mengetahui banyak hal.
            Sederhananya, saya lebih banyak bahan untuk diceritakan ke orang-orang perihal tempat yang sudah saya datangi sedang mereka belum pernah. Dengan kata lain, saya menjadi orang yang lebih kaya pengalaman. Ingin seperti Apollo telah mengelilingi dunia atau seperti Gusdur yang mengunjungi banyak tempat di belahan bumi. Seperti Luffy, tokoh utama di manga One Piece, mengelilingi dunia menempa pengalaman, saya juga ingin melakukannya. Pasti sangat menyenangkan, kerena selain banyak hal baru yang akan saya temui juga karena saya bisa menambah banyak teman.
            Ya, itu mimpi saya sewaktu kecil. Mimpi yang dipoles dengan warna indah dan menyenangkan. Terlampau sangat menyenangkan hingga yang terjadi tanpa sadar saya melamunkan tempat yang menyenangkan itu. Tidak tanggung-tanggung, tempat yang ingin saya tuju adalah luar angkasa. Saya ingin berkunjung ke rumah Raja Emperound—salah satu tokoh di kartun Dragon Ball—yang digambarkan berlokasi di sebuah planet yang hanya seukuran lapangan sepak bola dan sangat jauh dari bumi. Mimpi saya sewaktu kanak memang terlalu kekanak-kakan. Sebuah imajinasi yang tidak akan terjadi di dunia nyata, atau… mungkin saja akan terjadi. Hem, entahlah, saya kadang masih berharap tempat semacam itu ada.
            Berbekal kreatifitas yang lahir dari sebuah imajinasi, bersama teman-teman kecil saya mengawali penjelajahan ke bukit-bukit. Membawa peralatan selengkapanya layaknya sekelompoh Power Ranger yang sering kami tonton tiap hari Minggu, kami membawa tongkat—sebenarnya hanya kayu atau bambu panjang yang kami sepakati adalah tongkat Power Rangers—berkekuatan besar, gelang, pedang-pedang(an) dan senjata lain. Kami meyakini, dengan senjata itu kami bisa melakukan perjalanan dengan selamat. Terbukti, bukit yang lumayan jauh dan tinggi untuk seukuran saya waktu itu, mampu saya taklukkan bersama teman-teman. Tidak hanya sekali saya melakukan penjelajahan semacam itu, tapi telah menjadi kegiatan rutin setiap pekan baik dilakukan bersama teman ataupun sendiri.
            Menginjak usia remaja, saya merasa bosan hanya menjelajah bukit-bukit yang terdapat di kampung kelahiran. Saya ingin mengunjungi tempat lain yang lebih jauh ke luar Kabupaten, misalnya ke pulau Jawa atau pulau selain Madura. Hanya saja, ada sesuatu yang sering mencegah saya untuk melakukan penjelajahan ke tempat yang lebih jauh tersebut. Masalah terbesarku adalah Aku ‘pemabuk darat’.
            Namun meski aku ‘pemabuk darat’, pada akhirnya aku tidak lagi takut pada bus atau mobil. Bermodalkan nekat, mula-mula aku mengunjungi Pamkasan, Bangkalan, Surabaya, Jombang, Nganjuk, Jeber, Malang, Lumajang, Tuban, Lamongan dan terjauh Bontang Kalimantan Timur. Mabuk karena kendaraan sudah bukan lagi masalah besar bagiku, sebab aku mulai terbiasa dan kata-kata Muktir mabuk lambat laun mulai menghilang. Jujur, sekarang aku masih terus menambah daftar keinginan mengunjungi tempat-tempat yang lebih jauh bahkan sampai luar negeri. Semoga keinginanku tercapai dan diridhai Allah. Amien.

23 April 2014

Catatan; Terjemahan Bahasa Indonesia, “Ingin Jalan-Jalan”

Kepada Tuhan Yang Maha Esa

Muktir Rahman Stress

Tuhan, saya tuliskan yang sedang saya rasakan. Ingin saya keluhkan kepadaMu, karena Engkau yang bisa menerima keluh kesah saya. Seperti yang telah Engkau katakan bahwa Engkaulah tempat mengeluh dan memohon.
Tuhan, inilah yang akan saya curhatkan kepada Engkau.
Tuhan, dengan segala penuh harap berilah saya pengetahuan sekaligus pemahaman tentang ikhlas dan sabar. Demi Engkau Yang Maha Tahu, sungguh saya kurang bahkan tidak sama sekali mengerti tentang ikhlas dan bagaimana pula berlaku ikhlas, juga saya tidak mengerti sepenuhnya cara bersabar.
Menurut orang-orang yang sepertinya dekat denganMu, Tuhan, orang yang sabar dan ikhlas akan disayang olehMu. Pahamilah bahwa saya juga ingin disayang olehMu, karena itulah saya bertekad belaku ikhlas dan sabar.
Seseorang pernah menasihatiku agar ikhlas dan sabar untuk mencapai yang kucitakan. Jadi intinya, aku harus lebih dulu mengerti bagaimana bersabar dan ikhlas untuk memcapai cita-cita. Tuhan, sepenuhnya saya yakin kalau Engkau tahu apa yang saya citakan itu. Ya, saya ingin jadi penulis. Banyak hal yang ingin saya abadikan dengan tulisan mulai dari hal kecil sampai hal yang besar.
Beberapa hal telah saya tempuh untuk mencapai cita-citaku itu. Saya berkali-kali belajar menulis pada teman yang telah jadi penulis, tapi tetap saja yang saya tulis belum bisa juga bagus. Banyak yang menasihati saya agar supaya sabar dalam beruasaha dan ikhlas dalam berkorban untuk menuju seukses. Saya pun coba bersabar dan ikhlas, tapi a la saya sendiri, dan nyatanya aku tetap saja gagal. Menurut teman-temanku aku gagal karena sabar dan ikhlas yang saya terapkan bukanlah sabar atau ikhlas yang sebenarnya. Jadi, apa dan bagaimana sebenarnya sabar dan ikhlas itu?
Tuhan, inilah permintaan saya. Saya memohon kepada Engkau pahamkanlah hambaMu ini tentang bagaimana berlaku sabar dan ikhlas dan juga buatlah saya mengerti bagaimana cara terbaik mencapai keinginan saya menjadi penulis. Dan satu hal lagi Tuhan, ridhailah saya menjadi penulis dan sayangilah saya ini baik sebelum mau pun nanti ketika benar-benar menjadi penulis.
Okelah Tuhan, ini saja dulu yang bisa saya sampaikan kepadaMu. Saya mohon jagalah diri saya selalu ya Tuhan… I Love You, Tuhan…..

Sasar 09201305

Wednesday, March 5, 2014

KAMPUNG SASAR TUH, ASYIK!

Keakraban bisa terjalin karena adanya saling pengertian. Saling pengertian muncul tidak hanya karena memiliki persamaan, tapi lebih karena bisa mengesampingkan egoisme. Seperti halnya keakraban ketiga orang pemuda dari kampung Sasar. Bertiga mereka saling mengerti, bahkan tanpa harus diucapkan antara satu dengan lainnya. Semisal ketika ada yang sedang gusar, sedih, senang dan sejenisnya, yang lainnya segera mengerti. Bersama, mereka pun berbagi; senang, sedih, manis, pahit dan semacamnya. Begitulah Aku, Nafi’ dan Syakur memaknai PERSAHABATAN.
Terlahir di kampung yang sama bernama Sasar, menjadikan kami sahabat tak terlepaskan. Sekali pun ada beberapa usaha orang lain untuk memecah persahabatan kami, sampai sekarang usaha mereka itu gagal. Justru yang terjadi, kami semakin erat. Keeratan persabatan kami ditandai dengan seringnya bersama untuk melakukan hal-hal tak terduga di kampung kami.
Banyak hal “tak biasa” kami lakukan untuk sekedar meramaikan kampung kelahiran. Kami bertiga selalu berinisiatif agar kampung kami terasa lebih hidup dan selalu terjaga. Maka, jadilah ulah-ulah konyol sering kami lakukan.
Pernah kami meramaikan kampung Sasar dengan mendirikan warung. Suatu malam, kami sepakat mendirikan warung di samping rumah Nafi’ yang rumahnya tepat di pinggir jalan dan paling strategis untuk misi ini. Pada malam Jumat kami mulai beraksi dengan mempersiapkan sound system. Sound itu disetting layaknya untuk sebuah acara pernikahan. Kami kumpulkan sound yang kami miliki, kemudian kami merangkainya menjadi sound yang tak kalah dari Sanzibar, Hitam Putih, 98 dan Sakera yang sering digunakan untuk acara besar di kampung kami. Boleh dikata sound rangkaian kami itu, tidak mengecewakan untuk pentas orkes.
Pagi harinya, kami bertiga tidak bisa menahan tawa mendengar obrolan seorang tetangga dengan ibu Nafi’. Si orang yang kebetulan lewat itu menanyakan pada ibu Nafi’, “Ada hajatan apa, Bu?” Kontan saja ibu Nafi’ bingung menjawabnya. Namun, orang-orang segera mengerti kalau sound itu bukan untuk hajatan melainkan ulah kami bertiga. Para tetangga seperti sudah maklum dengan adanya sound di rumah Nafi’, terlebih sound itu tidak pernah berbunyi kecuali di malam hari, di waktu yang tak wajar tentunya. Ya, sound itu melantunkan berbagai gendre musik pop, dangdud dan band. Semakin malam, sekitar jam 12 sampai subuh diganti dengan murottal al-Quran dari Mishary Rashid Al-Fasy. Lantunan lagu dari sound itu menemani kami mendirikan sebuah warung.
Pekerjaan sengaja kami pilih di waktu malam, sebab lebih tenang dan enjoy, juga agar orang-orang penasaran. Apa yang kami harapkan benar terjadi. Siang harinya, tetangga apalagi yang ibu-ibu heboh membicarakan warung di samping rumah Nafi’. Mereka tidak menanyakan langsung kepada kami perihal warung itu, sebab kami tidak akan memberitahunya. Kalau sudah begitu, bisa dipastikan ibu Nafi’ yang jadi sasaran pertanyaan mereka. “Mau jualan apa, Bu?”, “Enak lo, kalo ibu buka usaha warung nasi”, “Si Nafi’ mau buka usaha Conter ya, Bu?” dan kalimat sejenis ditujukan ke ibu Nafi’. Lagi-lagi kami bertiga tidak bisa menahan tawa, apa lagi ibu Nafi’ menjawab tidak tahu kepada mereka. Memang kami sengaja tidak memberi tahu rencana kami ke orang lain, termasuk ibu Nafi’.
Selama seminggu warung itu berdiri tanpa ada aktifitas, selain malam hari tentunya. Itu pun hanya kami jadikan sebagai tempat ngumpul, bahkan tampat tidur. Perlu kalian semua ketahui, kami bertiga tidak butuh tempat mewah untuk tidur apalagi jika tidurnya bertiga, di halaman rumah pun jadi. Sebab itulah, tidur di warung yang kami dirikan “sekedarnya” itu, tidak masalah bagi kami.
Selama seminggu, orang-orang—terlebih yang ibu-ibu- melontarkan pendapatnya pada warung “siluman”. Ada yang mengira kami bertiga hendak mebuat WARNET, ada yang bilang warung nasi, ada yang beranggapan warung kopi, rental playsteson, conter pulsa dan sebagainya. Namun yang jelas, mereka tidak menanyakan langsung kepada kami bertiga. Mereka hanya menduga-duga atau bertanya ke ibu Nafi’ yang tidak tahu menahu.
Merasa kasihan kepada mereka yang masih menduga-duga, kami memberitahukan kepada mereka bahwa kami akan berjualan gorengan dan akan dimulai besok, pada hari jum’at pagi. Langsung saja kabar tersebut menyebar. “Nafi’, Syakur dan Muktir akan jual gorengan”, begitulah kabar itu meluas dari mulut ke mulut (ibu-ibu).
Pada malam jumat, kami mempersiapkan segala sesuatu untuk jualan besok. Tepung drigu 25 kilo, tempe 3 papan, tahu satu bak, alat penggorengan dan hal lain yang berkaitan dengan gorengan. Bermodal sedikit ilmu dari hasil riset ke para penjual gorengan di pasar Kapedi, kami pun merasa siap mejadi pengusaha dagang gorengan di kampung Sasar.
Sekitar jam 05:30, seorang calon pembeli pertama datang ke warung kami. Dia hendak membeli gorengan yang akan kami jual. Sayangnya, si para pengusaha gorengan masih terlelap dan terpaksa si calon pembeli pertama itu harus membangunkannya dan mengingatkan tentang gorengan. Ah, calon pembeli yang baik menurut kami.
Setelah melakukan persiapan, kami pun mulai berjualan. Kami berbagi tugas, Syakur menggoreng, Nafi’ melayani pembeli dan aku yang membuat adonan untuk digoreng. Selang satu jam, kami kewalahan sebab kerja kami kalah cepat pada pembeli yang terus berdatangan. Singkat cerita beberapa ibu-ibu, yang hobi ngegosib dan hendak membeli gorengan dari kami tapi karena kasihan, akhirnya menjadi penolong kami. Mereka membantu membuatkan adonan, melayani pembeli yang lain dan membantu menggoreng. Di tangan ibu-ibu itu, pekerjaan membuat gorengan teratasi dengan mudah.
Setelah seharian, dari sekitar jam 06.00 sampai 21.00, akhirnya jualan pun ludes. Hasil dari jualan georengan itu memang tidak banyak, tapi cukuplah untuk duduk lama di warnet. Setelah berjualan, pada jam 21.30-an, kami langsung menuju warnet di pasar Kapedi. Tarif perjam di warnet itu Rp.2000.00. Masing-masing dari kami menghadapi satu komputer. Lebih dari tiga jam berselancar di internet, kami pun memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah Nafi’, sekitar jam 01.00 dini hari, kami memiliki rencana baru. Rencana yang lagi-lagi tak terduga, dan sintingnya kami bertiga sepakat. Rencana tak terduga itu adalah “meringkasi” warung dan aksesorisnya. Jadilah, warung itu kami robohkan dan menghilangkan jejak adanya warung gorengan di samping rumah Nafi’. Warung gorengan tinggal cerita dan memang itulah yang sejak awal kami inginkan. Dan bisa ditebak, lagi-lagi kampung Sasar ramai. Orang-orang, terutama ibu-ibu, membicarakan Warung Gorengan yang bagai siluman, tiba-tiba hilang padahal banyak yang datang untuk membeli gorengan. Dan sekali lagi, ibu Nafi’ jadi sasaran pertanyaan mereka.

Sasar, 03 Maret 2014

Wednesday, February 26, 2014

GUNDULI KEPALA; Jangan Hutan

“Rambut adalah mahkota.” Ujar salah satu teman yang rambutnya niru gaya personel Soju, di saat kami ngumpul melepas penat di sore hari.
“Laki-laki terlihat tampan atau tidak, tergantung model rambutnya” teman yang lain menanggapi sambil mengelus rambut berkuncirnya.
Obrolan seputar rambut terus berlanjut. Masing-masing orang memiliki persepsi sendiri model rambut seperti apa yang cocok. Ada berasumsi, rambut panjang dan lurus sangat bagus, ada yang lebih memilih rambut punk, dan ada yang lebih cocok dengan model rambut gaya tentara.
Aku sendiri mengiyakan semua pendapat teman-teman tentang rambut, “Seseorang semakin tampak tampan atau cantik karena potongan rambutnya yang cocok.”

 Semua tidak harus memiliki model potongan rambut yang sama untuk tampak bagus. Misal si A mengikuti gaya rambut si B yang ganteng agar si A tampak ganteng pula. Hal itu tak perlu, sebab face wajah setiap orang tidak sama. Karena tidak sama, maka gaya rambut tidak harus sama, yang perlu diperhatikan adalah sesuai dengan bentuk kepala, kepribadian dan face wajah.

Bayangkan saja jika seorang kiai, ulama besar dan sangat dihormati masyarakat, gaya rambutnya a la Boy Band atau lebih esktrem lagi a la anak punk. Wah, ketika khotbah jumat  dijamin heboh. Hehehe. Atau malah sebaliknya, seorang anak punk rambutnya disisir rapi rata ke kanan ditambah pakai kaca mata jadul bulat terus kancing bajunya terpasang semua. Aku tidak yakin lagi si anak ini diakui sebagai anak punk.

Pembicaraan panjang lebar teman-teman menambah refrensi padaku tentang mode rambut. Gaya rambut tentara, model serabut, punk, panjang sebahu, kuncir panjang di belakang dan beberapa model rambut yang tak ku tahu namanya. Mode rambut yang “belum pernah” aku coba, boleh dikata rambutku tidak mengikuti mode terkini seperti teman-temanku. Rambutku kalau gak pendek, ya panjang.

Aku teringat suatu hari pernah seorang teman mengatakan ingin melihat aku gundul. Aku tak mengerti kenapa dia menginginkannya, tapi memang seingatku aku tidak pernah gundul. Belum kebayang gimana kalau kepalaku tanpa rambut, sebab aku lebih sering membiarkan rambutku terjuntai panjang. Hem, aku berpikir tidak ada salahnya mengabulkan keinginan temanku itu. Semoga saja dia bisa tersenyum karena kepala gundulku, siapa tahu dengan begitu aku masuk surga. Amien. Hehehehe

Kepada teman-teman aku utarakan bahwa aku akan potong rambut. Mereka terdiam seakan tak percaya. Aku mengerti kenapa mereka tencengang, tak lain sebab rambutku masih pendek. Yang mereka tahu, aku tidak mungkin memotong rambut pendekku sebab aku terbiasa berambut panjang. Ekspresi mereka hampir sama dengan tukang cukur suatu ketika di salon saat aku datang untuk potong rambut. Si tukang cukur itu tidak langsung memotong rambutku yang kala itu panjangnya sampai punggung. Dia ngoceh sendiri menasihatiku untuk memikirkan matang-matang keinganku potong rambut sesisir atau sekitar 2 inci. Katanya butuh waktu lama agar rambut panjang, apalagi panjangnya sampe punggung. “Mas, kalo urusan pangkas rambut itu gampang, hitungan menit beres. Pikir-pikir dulu lah, Mas… sulit loh untuk laki-laki rawat rambut sampai sepanjang ini” nasihat si tukang cukur diulang-ulang. Namun aku telah memutuskan untuk memangkas rambutku kala itu, maka si tukang cukur pun meski ada rasa kagak enak tetap memotong rambutku sesisir.

Teman-temanku kurang percaya dengan keputusanku. Perbincangan kami tentang rambut diakhiri dengan sebuah tantangan. Mereka menantangku untuk plontos, dan mereka bertaruh aku tidak berani. Waktu dibatasi sampai ke esokan hari. Jika besoknya kepalaku tidak gundul, maka aku kalah. Semua yang berkumpul menyatakan sepakat, itu artinya ada waktu 13 jam untukku. Kesempatanku sejak aku menyetujui tantangan pada jam 17.00 hari Senin tanggal 24 Februari 2014 sampai jam 06.00 Selasa, 25 Februari 2014.

Tepatnya sehabis jamaah isya’, aku ke rumah tetangga bernama Sampandi. Aku berniat minta bantuannya menggunduli kepalaku. Aku pikir, tak perlu buang uang ke salon hanya untuk buang rambut. Mending kan pilih gratisan dan hasilnya sama; kepala gundul.

Sekitar satu jam, rambutku berhasil dipangkas habis. Ku raba, terasa licin. Hahaha, semoga saja tidak menyebabkan longsor dan banjir seperti hutan yang digunduli. Sampai di sini, timbul pertanyaan di kepalaku; kenapa mereka lebih senang menggunduli hutan ya, bukan menggunduli kepala sendiri? Menggunduli hutan bisa menyebabkan bencana, sendang menggunduli kepala tidak. Hem, payah. Jika mereka (yang suka merusak hutan) berpikiran seperti teman-temanku bahwa rambut adalah mahkota keindahan sehingga harus dirawat, begitu pula seharusnya pada hutan. Tumbuhan di hutan adalah mahkota keindahan dan harus dirawat, bukan dipangkas habis kemudian dimusnahkan, agar bumi tetap indah dan sejuk. Weekkkkk…

Keesokannya, aku langsung menemui teman-temanku memperlihatkan kepalaku. Mereka semua tertawa, begitu pula aku. Hahahahha…. Kepalaku benar-benar gundul.

https://scontent-sit4-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/1800188_10200898034208058_903497307_n.jpg?oh=32bfe1560eb42551fd0876b94c9cba83&oe=589BC1F3
25 Februari 2014